Wednesday, December 1, 2010

Kudengarkan Rendra bersajak

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS. Rendra, Cermin)

dan akupun demikian, akupun sempat berpikir, setelah aku beribadah tiap hari, ditambah tahajud dan tak lupa puasa sunnah, pasti Tuhan akan kabulkan segala doaku
Aku menjual ibadahku pada Tuhan, seolah Tuhan pedagang dan aku pembeli yang membutuhkan kenikmatan. Aku tak memberiNya pilihan selain mengabulkan doaku. Seolah akulah orang yang paling menderita nomer 1 di dunia...

padahal aku bisa makan, punya tempat tinggal, mendapat pendidikan yang layak, mengapa dunia terasa sempit bagiku...
sedangkan mereka tak makan dan tetap bisa tersenyum. . .
duh Gustiiii....ampuni hambamu yang tlah lupa bahwa nafas ini adalah pemberianmu, bahwa udara, air, dan tanah ini adalah milikMu....

Friday, November 6, 2009

Very Micro Economy Model-kepepet

Jhon Maynard Keynes memang jenius menggambarkan laju sistem Moneteris ekonomi, sementar Adam Smith. . . , (dalam an inquiry into the nature and causes of the welth of nation. 1776) siapa yang bisa menandinginya dalam Micro Economy yang berbasis pada bisnis sektor riil dan pembukaan lapangan kerja baru agar ekonomi negara tidak goncang.
Namun Indonesia punya lebih dari mereka berdua yang hanya seorang Teoretikus, kita punya ribuan tukang tambal ban, tukang sayur, kuli panggul pasar, kuli bangunan, kuli kebun, dan kuli-kuli lainnya. yang menyekolahkan dan menghidupu 3-7 orang anak dan istri.
Kita punya puluhan penyandang cacat yang berkeliling menjajakan minyak gas.
Lalu. . .teori ekonomi mana yang bisa menjelaskan cara mereka bertahan hidup dengan pendapatan 10-30 ribu /hari. Pendapat siap yang bisa menggambarkan stabilitas kehidupan keluarga mereka?
Merekalah pakar sekaligus pelaku. Merekalah pencetus teori very micro economy model kepepet. entah kita harus bangga pada mereka atau malu pada sistem negeri ini. . .

Sunday, August 9, 2009

Puisi terakhir Rendra

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
Atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
aku ingin kembali pada jalan alam
aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu

W.S. Rendra
31 July 2009

Mitra keluarga

Cermin

Seringkali aku berkata,
Ketika orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipanNya,
Bahwa hartaku hanya titipanNya,
Bahwa putraku hanya titipanNya,

Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia
Menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusbut itu sebagai petaka,
Kusebut dengan penggilan apa saja untuk melukiskan
Bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah,
Lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,

Seolah semua ”derita”
Adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasihNya
Harus berjalan seperti matematika:



Aku rajin beribadah,
Maka selayaknyalah
Derita menjauh dariku,
Dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
Dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas ”perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
”ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keuntungan sama saja”

(W.S. Rendra)

Thursday, August 6, 2009

Renungan untuk berusaha kembali

Kami tidak punya uang
Nilai mata uang Jepang yang kami pakai di Indonesia pun nilainya sudah merosot
Setiap orang berusaha menyelundup demi kepentingan republic
Mantan duta besar kami untuk Amerika menyelundupkan candu. Di pulau Jawa dan Madura banyak candu, dan kami mengadakan perdagangan yang cukup luas dengan candu.
Dengan beberapa ons aku telah memperoleh sebuah mobil Cadillac kepresidenan yang pertama.
Dr. A.K. Ghani, seorang pembesar tinggi dikabinetku menyelundupkan 9 Kg emas, 300 Kg perak, dan 800 Ton karet. Belanda memberinya julukan raja penyelundup. Rakyat Indonesia mengenalnya sebagai menteri perekonomian.

Soekarno: An autobiography as told to Cindy Adams 1965

Pertanyaannya, apakah kita ingin kembali ke masa itu, dengan segala kekurangan dan keterpurukan ekonomi?
Masa depan bangsa ini ada ditangan kita.

Friday, March 20, 2009

Aku hanya ingin Menikmati semangkuk Mie Ayam

Bulan ini persiapan para calon legislatif untuk maju berjuang di pemilihan umum, entah siapa yang terpilih, semoga memang anak bangsa yang terbaik, semoga mereka adalah pejuang yang peduli pada orang lain, bukan para oportunis skeptis yang maju ditengah-tengah keterpurukan rakyat.
Rakyat yang miskin ini hanya butuh makan, pekerjaan, pendidikan, dan pengobatan, yang semakin hari bertambah sulit, langka, dan mahal.
Sedangkan aku...aku hanya ingin menghabiskan sendok terakhir mie ayamku dengan nikmat, tanpa rasa iba pada si sakit, si lapar, dan si miskin.

Saturday, February 28, 2009

Ibu Juara satu


Dari mulai koki masak, manajer keuangan dan pembelanjaan, guru private, baby sitter, sampai (apabila situasi mendesak) jabatan pencari nafkahpun diterimanya.
Belum berhenti sampai disitu, terkadang apabila masakan telat dihidangkan atau anak kurang terurus, ada saja orang tak tau diri memarahi atau sekedar mengingatkan dengan nada sinis.
Dialah Ibu, sang juara sejatiku
Kenyataannya, si tak tau diri ini samapi sekarang masih saja merajalela, dengan mengusung simbol kejantanan ditancapkannya doktrin bahwa laki-laki sangat aib berada didapur, pantang mengurus anak, cela mencuci pakaian dan membersihkan rumah, maka sekali lagi, Ibulah yang mengerjakan itu semua.
Maka dia memang pantas menyandang predikat, Ibu nomer 1 juara sejatiku.
Namun tanpa mengurangi rasa hormatku pada Ibu, memang di Indonesia memang banyak suku bangsa seperti Jawa, Sunda, Melayu yang membentuk sebuah paradigma yang mengajarkan para wanita untuk hanya menggunakan kemampuan minimal untuk mencapai tujuan yang diingini, akibatnya para wanita ini hanya menggunakan wawasan dan perspektif yang lebih sempit serta menyerah pada kebiasaan dan perasaan yang tidak nyaman.
Ibu. . .maaf aku tidak setuju dengan paradigma bangsamu, bahkan aku menentangnya,
Ibu. . .tugasmu hanya patuh pada suamimu, bukan mengerjakan itu semua sendiri.Dan aku hanya ingin melihatmu tersenyum

Harpa tanpa Dawai

Jika dulu aku tidak bertekad untuk melawan ketidaknyamanan dan menantang kesendirian, tentu sekarang akan kulihat diriku sendiri disini, diantara kerumunan ini, berjalan kesana kemari mengikuti aturan dan keadaan yang tidak kuketahui penyebabnya, mengumpulkan sekeping dua keeping rupiah untuk dihamburkan demi harga diri dan gengsi sesaat , berbusung dada dan menengadah sombong dikala untung, memamerkan segala kecongkakan dan kesempitan pikir yang disangka sebagai sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Aku menolak menjadi seperti itu, aku menolak ajakan lingkungan untuk mengikutinya. Dan kini harpa itu telah berbunyi, harpa yang selama ini terdiam lama tanpa dawai, sontak meski tak berdawai nada kemenangan atas kepicikan pikir. Ia bersenandung, menyatakan bahwa lingkungan selalu memberi pilihan, hanya penghuninya saja yang membuat aturan keliru

Thursday, February 5, 2009

Life Art

Andai nasib itu manusia, akan kutantang ia untuk berduel, kuangkat kerah bajunya dan kuberi dia bogem mentah dimukanya, dan lengkaplah sudah gelarku sebagai pengecut sejati yang melawan nasib dengan emosi. namun aku pernah mendengar, bahwa jika ia dilawan dengan permainan catur, dikecoh dengan strategi bijak, dan diikuti irama alur ketentuannya dengan kepala dingin sehingga mencapai batas tertentu, ia akan mengangkat topi pada sang pejuang ini layaknya ia akan menghormati duke dan conrad Inggris abad pertengahan, dan itulah cara sang pemberani.

Saturday, January 24, 2009

PSIKOLOGI TRANSPERSONAL, genre baru dalam Psikologi

Awal mula adanya psikologi transpersonal muncul perdebatan mengenai penyakit jiwa yaitu psikosis (skizoprenia). Pada tahun 60-an, behaviorisme memandang bahwa psikosis itu terjadi karena kesalahan akibat proses belajar yang keliru, jiwa tidak dibicarakan dalam behaviorisme. Tahun 1970-an, psikoanalisis memandang skizophrenia (penyakit psikosis) diakibatkan pengalaman traumatis, terutama pengaruh ibu yang menderita kecemasan. Pengalaman traumatis itu terjadi karena represi ke alam bawah sadar, pengalaman spiritual dianggap sebagai perilaku obsesif dan pemenuhan keinginan dari masa kanak-kanak, jiwa diperhitungkan sebagai motif-motif bawah sadar, terutama seks. Dua puluh tahun berikutnya ada penjelasan neurokimiawi tentang skizophrenia, adalah “biologically-based brain disease”, kelompok ini menggunakan obat-obatan untuk penyembuhan skizoprenia.
Pada tahun yang sama penggunaan obat-obatan ini justru mengantarkan banyak orang pada pengalaman spiritual pada realitas diluar realitas fisik. Sally Ciay adalah satu mantan pasien psikiatris, menulis artikel ”stigma and spirituality”, ia melaporkan pengalamannya selama ia menjadi pasien di Hartford Institute of Living (IOL) ketika ia didiagnosa menderita skizoprenia. Ia berkata bahwa ”not a single aspect of my spiritual experience at the IOL was recognized as legitimate; neither the spiritual difficulties nor the healing that occurred at the end”. Ia membantah bahwa memang ia menderita psikosis pada waktu itu. Tetapi di samping penderitaan karena penyakitnya itu, ia juga mendapat pengalaman spiritual yang dalam. Karena pengalaman ini diabaikan oleh petugas kesehatan, kesembuhannya mengalami hambatan.
Dari kalangan psikiater R.D. Laing dan John Perry mengkritik pandangan profesi mereka yang menganggap kegilaan sebagai penyakit. Menurut Laing, seorang skizoprenia memang gila, tetapi ia tidak sakit. Jiwa secara keseluruhan adalah sebuah lautan luas, yang kebanyakan tidak diketahui ego. Jadi seorang psikosis itu bersentuhan atau bahkan tenggelam didalamnya, ia sedang menempuh perjalanan berbahaya, mengarungi samudera jiwa untuk menemukan makna yang lebih dalam. Laing berkata psikosis bukanlah ”breakdown” tetap ”breakthrough”, bukan kehancuran tetapi terobosan. Laing adalah tokoh utama dari psikologi humanistis-eksistensial.

SEKILAS TENTANG TRANSPERSONAL
Kata transpersonal berasal dari kata trans yang berarti melampaui dan persona berarti topeng. Secara etimologis, transpersonal berarti melampaui gambaran manusia yang kelihatan. Dengan kata lain, transpersonal berarti melampaui macam-macam topeng yang digunakan manusia.
Menurut John Davis, psikologi transpersonal bisa diartikan sebagai ilmu yang menghubungkan psikologi dengan spiritualitas. Psikologi transpersonal merupakan salah satu bidang psikologi yang mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologi dengan kekayaan-kekayaan spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama.
Konsep inti dari psikologi transpersonal adalah nondualitas (nonduality), suatu pengetahuan bahwa tiap-tiap bagian (misal: tiap-tiap manusia) adalah bagian dari keseluruhan alam semesta. Penyatuan kosmis dimana segala-galanya dipandang sebagai satu kesatuan.

MISI DAN KAJIAN PSIKOLOGI TRANSPERSONAL
Dalam Website-nya, Association for Transpersonal Psychology (www.atpweb.org/mission.html) menjelaskan misi psikologi transpersonal sebagai berikut:
“Misi kami adalah menyediakan forum bagi para sarjana dan praktisi yang meneliti perkembangan spiritual, penyadaran ekologis, dan pertukaran intelektual yang berlangsung lama untuk mengangkat transformasi eko-spiritual melalui penyelidikan dan tindakan transpersonal.
Dengan mengenali hubungan timbal-balik yang inheren antara tindakan kita dan dunia kita, asosiasi ini didedikasikan untuk mendorong dan memacu praktik-praktik dan perspektif-perspektif yang akan mengantar pada ko-evolusi kebudayaan, alam, dan masyarakat yang sadar dan berlangsung terus-menerus.
Keahlian kami adalah memadukan pengetahuan psikologis dengan pengetahuan spiritual yang melaluinya kami mendorong transformasi spritual, baik secara individual maupun secara kolektif. Untuk sampai pada tujuan ini, asosiasi mendorong demokrasi spiritual; pemeriksaan yang cermat kepada beragamnya teknik, disiplin, dan metode untuk mengeksplorasi spiritualitas personal dan praktik-praktik kultural yang tradisional; dan pengenalan akan bagaimana yang sakral diejawantahkan dalam semua pengalaman.
Dari misi ini sudah terlihat bahwa psikologi transpersonal adalah bidang yang sangat luas yang menghubungkan segala perilaku manusia dengan dimensi spiritual. Pemahaman akan dimensi spiritual ini harus diakui sangat beragam menurut agama dan budaya. Semuanya layak untuk ditampung dalam ruang yang bernama psikologi transpersonal.

PERBANDINGAN TRANSPERSONAL DENGAN YAN LAIN
Psikologi secara sederhana sekali bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia. Sekali lagi, perilaku manusia. Ada resiko yang tidak kecil dalam definisi ini. Apakah perilaku itu? Untuk menjawabnya, kita tidak bisa memberi jawaban tunggal. Definisi perilaku sangat tergantung pada kacamata atau sudut pandang yang kita gunakan.
Kita bisa mengerucutkan berbagai definisi perilaku pada aliran-aliran psikologi yang berkembang sejak Wilhelm Wundt mendirikan Laboratorium psikologi pertama di Universitas Leipzig pada bulan Desember 1879. Tabel berikut akan memberi gambaran tentang orientasi pemikiran dalam aliran-aliran psikologi.

Orientasi pemikiran dalam aliran-aliran psikologi

Strukturalisme
Struktur kesadaran

Fungsionalisme
Fungsi/cara bekerja kesadaran

Behaviorisme
Pola stimulus-repons

Psikoanalisis
Dunia ketidaksadaran

Psikologi Gestalt
Persepsi menyeluruh terhadap objek

Psikologi humanistik
Kesadaran dalam totalitasnya

Psikologi kognitif
Korelasi kesadaran dan fungsi kognitif

Psikologi transpersonal
Struktur dan pergerakan jiwa dari kesadaran sampai pada diri terdalam

Nah setelah kita mengerti bagaimana aliran-aliran itu berbicara tentang perilaku, bisa kita menggarisi sedikit perbedaan yang ada pada mereka, sehingga dapat kita perhatikan bagaimana ketidakpuasan para tokoh pendiri aliran transpersonal pada aliran psikologi yang ada, dan yang notabenenya tidak mampu menjelaskan tentang hal baru yang mereka temukan belum lama ini.
Pendirian psikologi transpersonal seringkali dilekatkan dengan nama Anthony Sutich dan Abraham Maslow yang juga menjadi pendiri Mazhab Ketiga dalam psikologi yang disebut Psikologi Humanistik. Memang mereka berdualah yang berjasa dalam pendirian aliran baru ini. Upaya yang timbul dari ketidakpuasan pada teori yang tidak mampu menjelaskan hal-hal baru yang mereka temukan. Sebut saja ketika Maslow mulai meneliti aspek-aspek kehidupan religius, dan saat itu pemikiran ilmiah Amerika sedang didominasi oleh behaviorisme yang kurang simpati dengan eksplorasi dimensi batiniah. Menghadapi situasi ini, Maslow tidak terburu-buru memperkenalkan pengalaman mistis. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah memperkenalkan istilah pengalaman-pengalaman puncak (Ing: peak experiences).
Upaya Maslow memang terkesan lambat, namun ia berhasil membangunkan pemikiran-pemikiran spiritual yang tidur dalam berbagai konteks kultural dalam cara yang lembut, sampai-sampai dalam kurun waktu tiga puluh tahun gerimisnya sudah membasahi sebagian besar tubuh psikologi. Pada tahun 1969, Maslow dan Sutich secara formal mendirikan Journal of Transpersonal Psychology (Jurnal Psikologi Transpersonal). Tiga tahun kemudian, pendirian itu dikokohkan dengan berdirinya Association for Transpersonal Psychology (Asosiasi Psikologi Transpersonal) yang menjadi wadah bagi eksplorasi pengalaman mistis, trans, atau spiritual yang berakar baik dalam tradisi Timur maupun tradisi Barat.
Pendirian itu digagas oleh Sutich yang mengumpulkan para tokoh-tokoh yang mempunyai paham yang sama di rumahnya di California (waktu itu pusat gerakan "kontra budaya''). Mereka membahas secara informal topik-topik yang tidak diperhatikan oleh psikologi humanistik dan gerakan potensi manusia waktu itu. Pertemuan itu dihadiri oleh Abraham Maslow (psikolog humanistik yang berbicara tentang peak experience, pengalaman puncak), Stanislav Grof, dan Victor Frankl, yang kemudian dari diskusi ini menghasilkan istilah transpersonal untuk gerakan psikologi yang mereka rintis.
Diskusi ini dipimpin langsung oleh Sutich meskipun harus menggunakan cermin di atas kepalanya karena ia terbaring lumpuh oleh penyakit kronis. Dalam diskusi ini Wilber (Kenneth Earl Wilber Jr) belum hadir karena pada waktu itu ia masih menjadi pemuda gelisah yang juga mengalami ketidakpuasan terhadap sains dan psikologi modern.
Sebenarnya, jauh sebelum Maslow mengemukakan tentang pengalaman mistisnya, telah muncul seorang tokoh yang telah banyak membicarakan tentang pengalamn yang sama seperti yang diungkapkan Maslow. Adalah seorang psikiater Kanada R.M. Bucke. Pengalamannya terjadi pada kunjungannya ke Inggris pada tahun 1872, yaitu ketika ia merasakan perasaan tenang dan damai, yang kemudian berubah seketika menjadi muram dan seolah-olah seperti terbakar nyala api, kemudian perasaan itu berubah kembali seketika itu pula menjadi perasaan suka ria yang menyelimutinya. Bucke menyebutnya sebagai secercah kesadaran kosmik. Psikologi pada masa Bucke tidak memiliki label-label untuk menentukan tentang hal itu kecuali label-label psikopatologis. Sehingga mulailah ia berpaling pada psikologi timur untuk menemukan hal-hal yang tidak ditemuinya di barat.
Selain itu gagasan tentang transpersonal juga telah dikemukakan oleh C.G. Jung, walaupun memang tidak secara penuh seperti apa yang dilakukan Maslow, namun tulisan-tulisan dan teori-teorinya merupakan jembatan utama menuju psikologi transpersonal. Perkembangan dalam aliran psikologi ini secara mengejutkan memberi angin segar bagi kita bangsa timur, yang selama sekian abad telah dianggap irrasionil, subjektif, dan sangat tidak ilmiah. Pemikiran, dan ajaran-ajaran timur dianggap tidak relevan dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan empiris dewasa ini, sehingga bangsa timur dianggap second nation dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, dan perkembangan ini merupakan awal yang baik bagi bangsa timur. Dan ini perlu untuk didukung dan terus dipupuk perkembangannya.

Monday, January 5, 2009

“Life is not Futile, but it’s Meaningfull”

oleh: Muhammad Nasrullah


Pada saat Bill Gates mengundurkan diri dari Microsoft Corp semua orang bingung, mengapa orang paling kaya sedunia, paling berkuasa dengan uangnya, paling berpengaruh, paling dihormati karena prestasi dan kekuatannya, tiba-tiba mengundurkan diri pada usia muda, dan menyibukkan diri mengurusi yayasan sosial korban HIV/AIDS. Ini contoh nyata suatu lompatan logika, dia rela melepaskan kekuasaan dan kekayaan, untuk kegiatan sosial. Kenapa bisa demikian? Apa isi dunia kehidupan setelah uang dan materi? Berarti ada kebutuhan lain di luar kebutuhan hidup untuk memiliki makanan, rasa aman, cinta dan pengakuan serta aktualisasi diri yang dikemukakan Maslow. Ada piramida kebutuhan selain kebutuhan duniawi.

Kebutuhan hidup ala Abraham Maslow tidak bisa menjelaskan mengapa banyak orang miskin yang bahagia. Mereka tidak terpengaruh oleh perbedaan jenis makanan, minuman atau rumah yang ditempati. Orang miskin bahagia seperti menunjukkan bahwa kebutuhan dasar hidup bukan seperti piramida Maslow. Mengapa para master spiritual Budha (Zen, Ch’an) dapat bertahan menempuh penderitaan hidup? Apa sebenarnya yang mereka alami? Pengalaman hidup apa yang terlintas sehingga para Darwis dan Sufi penganut ajaran Tasawuf dan Tareqat keagamaan dalam Islam mampu menahan keinginan-keinginan dan hasrat untuk menikmati surga dunia?

Fenomena ini sudah lama mengganggu dan membuat otak berpikir keras untuk menemukan jawabannya, dan itulah alasan kuat mengapa Jung (Carl Gustav Jung) banyak meneliti tentang hal-hal yang berbau spiritual. Dalam teori kepribadiannya, Jung memperkenalkan konsep individuasi (realisasi diri) dimana gagasan ini dibangun Jung secara transpersonal berdasarkan kajian-kajian atas simbol-simbol mitologis dan simbol-simbol religius agama barat maupun timur. Jung melihat bagian tak-sadar bukan saja hanya bersifat komplementasi (saling melengkapi), tetapi juga kompensasi (saling mengimbangi).

Gagasan ini kemudian dilanjutkan Maslow dengan mempublikasikan peak experience (pengalaman puncak) yang dialami seseorang setelah mencapai tahap aktualisasi diri (tahap terakhir dalam Needs Hierarchy Theory), sebenarnya Maslow ingin memperkenalkan gagasan yang lebih dalam lagi tentang pengalaman-pengalaman mistis dan spiritual, namun karena pada waktu itu alam pemikiran Amerika (Behaviorisme) sangat tidak akrab dengan istilah-istilah ekplorasi batiniah, ia memilih untuk menunggu waktu yang tepat dan terlebih dahulu ia mengenalkan istilah peak experience tersebut.

Upaya Maslow memang terkesan lambat, namun ia berhasil membangunkan pemikiran-pemikiran spiritual yang tidur dalam berbagai konteks kultural dalam cara yang lembut, sampai-sampai dalam kurun waktu tiga puluh tahun gerimisnya sudah membasahi sebagian besar tubuh psikologi (Y. F. La Kahija, Makalah Psikologi Transpersonal).

Hasilnya dapat dilihat pada saat ini, dimana banyak para Psikolog dan praktisi Psikologi tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang sisi ini, walaupun memang belum cukup kuat untuk membawa pengalaman-pengalaman mistis dan spiritual itu kepada jabatan pengakuan secara umum, namun embrio zeitgeist kemunculannya sudah semakin tercium untuk saat ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya Association for Transpersonal Psychology, yang dalam websitenya (www.atpweb.org/mission.html) menjelaskan misinya: “Misi kami adalah menyediakan forum bagi para sarjana dan praktisi yang meneliti perkembangan spiritual, penyadaran ekologis, dan pertukaran intelektual yang berlangsung lama untuk mengangkat transformasi eko-spiritual melalui penyelidikan dan tindakan transpersonal”.

Sengaja kami mengemukakan secara singkat tentang fenomena perkembangan Psikologi Transpersonal dewasa ini, tak lain adalah agar muncul gambaran tentang lokasi keberadaan pengalaman mistis dan spiritual dalam ranah penelitian ilmiah Psikologi, yaitu dalam aliran Psikologi Transpersonal, aliran yang baru sekaligus lama. Dapat dikatakan baru karena eksplorasi ilmiah dalam bidang ini memang baru berjalan beberapa dasawarsa ini, dan dikatakan lama karena fenomena ini telah terjadi puluhan abad silam, ketika Sidharta Gautama (Budha) mencapai fase pencerahan1, ketika Muhammad mampu menyebarkan Nur Ilahi (cahaya keTuhanan) pada bangsa Arab2, hingga sampai saat ini.

Istilah Tareqat berasal dari bahasa Arab, berasal dari tiga huruf: tho’, ro, dan qof. Tareqat dalam arti bahasa berarti jalan, sedangkan dalam konteks ini adalah sebuah jalan tanpa rambu dipadang pasir (Ibn ‘Arabi dalam Hati Diri dan Jiwa) untuk menuju haqiqoh (kebenaran terdalam)3, namun Tareqat merupakan istilah lain yang banyak dipakai untuk menamakan aliran-aliran Tasawuf4 di Indonesia dan Negara-negara Islam lainnya.

Terdapat banyak sekali Tareqat keagamaan yang ada dalam Islam, sebut saja Naqsyabandiyah, Qodiriyah, Halveti-Jerrahi, Dhohiriyyah, dan masih banyak lagi, kesemuanya dapat diibaratkan sebagai beberapa jalan untuk mencapai sebuah gunung yang tinggi. Jalan mana yang dipilih tergantung setiap individu untuk memilihnya, setiap individu bebas untuk memilih yang mana, tapi inti dari meniti jalan tersebut adalah untuk dapat sampai pada puncak gunung tertinggi. Namun disini pembahasan akan lebih memiliki kualitas dengan meneliti salah satu Tareqat saja, karena begitu luasnya cara mereka dalam melakukan praktek dan ritual-ritual Tareqatnya.

Tareqat keagamaan dalam Islam dapat kita bandingkan dengan Meditasi Zen (Ch’an) dalam Budha, dalam wacana pencarian ketenangan dan makna hidup, kita dapat menyebut pengalaman yang dirasakan pelakunya sebagai pengalaman religius (hal ini mengacu pada metode keagamaan yang mereka gunakan). Sebut saja metode menyisihkan diri selama beberapa periode dalam tradisi Budha, metode ini digunakan untuk mencapai realisasi (mengalami, memahami, merujuk pada pengalaman pencerahan). Didalam metode ini terkadang sang murid menerima cercaan, hinaan, dan terkadang pukulan juga diberikan, hal ini dimaksudkan agar sang murid berusaha lebih keras lagi dalam menembus hambatan-hambatan (Master Sheng-yen, Zen, 2002). Tidak begitu berbeda dalam Islam, seorang yang ingin menjadi Darwis, ia harus menghilangkan berbagai nafsu duniawi yang ia miliki, ia harus mensucikan diri dari keinginan-keinginan semu duniawi agar mampu ikhlas dalam Tareqat, demi mengharap keridloan Allah semata (Robert Frager, Hati, Diri, dan Jiwa, 2005).

Pengalaman Bill Gates ketika ia mengundurkan diri dari jabatannya merupakan suatu pengalaman batiniah yang luas (lebih dari pengalaman religius), karena ia tidak mengalami ekstase keagamaan tertentu sebelum ia memutuskan hal itu. Kita dapat menyebutnya pengalaman spiritual, Maslow sendiri menyebutnya Peak Experience, pengalaman puncak yang menjadikan tiap individu “merasa lebih dari dirinya sendiri, lebih mewujudkan kemampuannya dengan sempurna, lebih dekat dengan inti keberadaannya, dan lebih penuh sebagai manusia”. Pengalaman semacam ini lebih luas, mencakup pengalaman-pengalaman religius para jamaah Tareqat keagamaan Islam, Master-Master Budha, dan Biksu-Biksuni Hindu dalam keagamaan, serta pengalaman-pengalaman seniman dalam kenikmatan estetik. (DR Nico Syukur Dister, Psikologi Agama, 1989).

Saturday, December 27, 2008

Infiltrating Essential Oil Market

Various techniques were done by refiners to market essential oils. On production phase, Rahmad Hidayat Syam, a refiner in Cikereteg, Bogor Regency, is building cooperation with 10 agents who are supplying raw material. Hidayat provides refinery facility and also buys their oils. Every month he routinely obtains 5-6 tonnes of nutmeg oil. Valued at IDR450.000 per kg, he earned IDR2,25-billionIDR2,70-billion a month. His net profit is IDR70.000 per kg or IDR350-million a month.

A different strategy is applied by Eko Wibowo, a refiner in Cianjur, West Java. He provides around 20 kinds of essential oil such as clove leaf oil, clove stalk oil, clove flower oil, vetiver oil, patchouli oil, and nutmeg oil. He is able to fulfill any demand for all kinds of essential oil. ‘By having various essential oil, we will be easy to find market,’ said the man who was born on January 15th, 1976.

The diversities of essential oil that he trades are also to minimize loss as cross subsidy is possible among those oils. Eko has experienced it in 2005 when the price of patchouli oil dropped to IDR150.000 per kg from IDR400.000, while the selling price of clove oil was in fact pull the price to IDR50.000 from IDR35.000 per kg. Other tips to market essential oil are by visiting the embassies, sending samples to exporters, or entrusting samples to a friend who is studying abroad

Infiltrating Essential Oil Market

Various techniques were done by refiners to market essential oils. On production phase, Rahmad Hidayat Syam, a refiner in Cikereteg, Bogor Regency, is building cooperation with 10 agents who are supplying raw material. Hidayat provides refinery facility and also buys their oils. Every month he routinely obtains 5-6 tonnes of nutmeg oil. Valued at IDR450.000 per kg, he earned IDR2,25-billionIDR2,70-billion a month. His net profit is IDR70.000 per kg or IDR350-million a month.

A different strategy is applied by Eko Wibowo, a refiner in Cianjur, West Java. He provides around 20 kinds of essential oil such as clove leaf oil, clove stalk oil, clove flower oil, vetiver oil, patchouli oil, and nutmeg oil. He is able to fulfill any demand for all kinds of essential oil. ‘By having various essential oil, we will be easy to find market,’ said the man who was born on January 15th, 1976.

The diversities of essential oil that he trades are also to minimize loss as cross subsidy is possible among those oils. Eko has experienced it in 2005 when the price of patchouli oil dropped to IDR150.000 per kg from IDR400.000, while the selling price of clove oil was in fact pull the price to IDR50.000 from IDR35.000 per kg. Other tips to market essential oil are by visiting the embassies, sending samples to exporters, or entrusting samples to a friend who is studying abroad.

Kaffir Oil As the Source of Income

When the furnaces of patchouli oil producers were extinguished as the oil price was drop, Samsudin's furnace kept on smoldering. The reason is he turns to distill kaffir lime oil. The 42 years old man produces 9 kg of Citrus hystrix oil every day. He valued the oil IDR600.000-IDR700.000/kg, thus he earned an IDR5,4 million-IDR6,3 million turnover in a day or IDR162-million-IDR189-million/month.

Despite so, it does not mean that producing kaffir lime oil is without obstacle. One of the obstacles is the quality of raw material. The raw material should be old leaves. Growers, however, are reluctant to fulfill it since it gives them difficulties while harvesting. They also do not want to suffer loss, which is understandably since old leaves are lighter so that they received smaller income. Accordingly, the yield is low. Another obstacle is stagnant supply as the effect of emulating with basic necessity as seasoning, particularly during great months in Javanese calendar.

Essential Oils Worth IDR 140-millions/kg

Lajagua Alpinia malaccensis is not a familiar name since it grows wild at forest side and ridge so that it is rarely taken into account. Eko Wibowo, a distiller in Ciherang, Cianjur Regency, West Java, however, process the rhizome of lajagua into 600 kg of lajagua oil per month. Sold at IDR280.000-IDR300.000 per kg, he gained a minimum IDR168-million turnover.

The yield obtained through distillation reaches 2% or at least it takes 50 kg of raw material to produce a liter of oil. With total production cost IDR250.000 per kg, his net profit is IDR18-million per month. A bigger margin is gained by roses and jasmine oil distillers. For example is Suryatmi, a distiller in Central Java, who distills 2-3 liters of jasmine and rose oil. She only distills whenever an order comes which is once in two months on the average.

With selling price IDR20-millions-IDR30-millions per liter, she gains IDR36-million net profit. According to Suryatmi the production cost per kg of oil is “only” IDR12-millions. The yield of jasmine oil is 0,1%. Accordingly, to obtain 1 liter it requires 1 ton of fresh flowers. The selling price of rose oil is in fact much more ravishing, i. e., IDR140-millions for Damaszener rose Rosa damascena at distiller level.

Lajagua and jasmine are merely some of new material for essential oil. In some places, there can be found distillers who produce various “new” commodity such as the flowers of fennel, the leaves of cubeb pepper, betel, and cinnamon bark. Those commodities have log grown in Indonesia, and only since recently they are distilled. (Sardi Duryatmo)